#3

sept 18, 0341hrs

patience does not mean passively  endure. it means to be farsighted enough to trust the end result of a process. what does patience mean? it means to look at the thorn and see the rose, to look at the night and see the dawn. impatience means to be so shortsighted as to not be able to see the outcome. The lovers of God never run out of patience, for they know that the time is needed for the crescent moon to become full. 

-ES

semoga kita tidak pernah retak.

apa yang tidak kamu mengerti dari pernyataan bahwa satu detik saja kamu terlambat, nyawa satu orang bisa melayang. apa yang kamu tidak mengerti dari sebuah pernyataan bahwa responsibility is like a glass, once it is broken, the repair wouldnt be the same.

bagian mana yang tidak kamu mengerti bahwa ketika kamu berencana jadi dokter, disitulah tanggung jawab bukan lagi pilihan buat kamu. its a MUST to be responsible, to feel responsible, to have responsibility. dan memang dari situlah kamu mencari dan mendapatkan hidup. thats where you make a living, where you are living your live.

tanggung jawab itu rangenya banyak lho. jangan mentang2 kamu jadi ketua senat ,terus kamu baru bilang itu tanggung jawab, sedangkan tugas kuliah yang ecek2 ga dianggap sebagai tanggung jawab. jangan dibilang tanggung jawab itu ketika kamu jadi presiden ngurusin ratusan juta kepala keluarga, terus kamu mikir ngurusin 1 keluargamu sendiri itu bukan tanggung jawab. kamu pasti tau maksudnya, bukan berarti kamu ngurusin oppek, mabim, pkm, lalala terus kamu ga ngerjain LI itu adalah sebuah tanggung jawab. apalagi kalo kamu bilang itu adalah sacrifice for greater good, wow, manusia bertanggung jawab jenis apa itu?

gw ga ngeliat orang bisa dikatakan bertanggung jawab hanya dari ketika ada rapat, lo dtg 15 menit sebelumnya. engga, bertanggung jawab itu ketika lo dateng di saat lo dibutuhkan, ketika lo diamanhkan untuk dateng.

ketika lo punya amanah, lo kerjain. itu tanggung jawab. lo janji dateng jam x, lo udah stand by di tempat by jam x, itu baru bertanggung jawab.

bertanggung jawab bukan berarti lo stand by di satu tempat/oraganisasi, padahal lo ga ada amanah, itu bukan indikator bertanggung jawab. lo nyuciin baju ketua lo, padahal itu bukan amanah yang diberikan ke elo, itu juga bukan tanggung jawab. tanggung jawab itu ketika lo disuruh beli rokok, lo beli rokok itu sesuai prosedur yang diinginkan, itu baru bertanggung jawab.

melakukan kesalah sekali-dua kali itu manusiawi kok. tapi ketika setiap kali rapat, lo telat dengan alasan ketiduran, yah, anak smp juga tau lo salah. makin kesini, makin bingung gw apa yang harus gw lakukan.

adakalanya gw totally have been trying to understand. and i do understand. but for them who filled with blasphemy, irresponsibilty, and disrespects, gw ga ngerti knp mereka berani masuk sekolah kedokteran. karena sejauh apa yang gw liat, tanggung jawab mereka dalam mencari ilmu, tanggung jawab mereka dalam menjalani ilmu, tanggung jawab mereka dalam keseharian mereka those affects their patients, or at least people surround them.


apa sih bedanya dokter dan pembunuh? once i wrote this on my wall, what distinguish a doctor and a murderer are knowledge, skill, and heart. heart macam apa yang dibutuhkan? tentunya heart yang responsible atas setiap decision yang dia pergunakan berdasarkan knowledge yang dia punya diinterpretasikan dengan skill yang terlatih yang memang dia latih dengan tujuan, dengan rasa tanggung jawab.

umur gw udah 22 tahun, lo mungkin yang baca ini juga sekitaran itu. one day soon, kita akan jadi orang tua yang punya anak. semakin kesini, semakin banyak realita yg terjadi cuma karena lack of responsible sense. seorang anak jadi gay karena ayahnya ga bertanggung jawab, seorang anak mesti kehilangan jari karena ibunya yang ga responsible membiarkan tuh anak jalan di pinggir jalan, sedangkan si ibu main handphone. sepasang orang tua mesti kehilangan harta benda yg dari dulu dikumpulkan untuk ngebahagiain anaknya, cuma demi rehab narkotik anaknya yg ga bertanggung jawab, yang justru lebih sarat rasa tersiksa. itu realita sehari2nya.

naudzubillahi min dzalik. semoga ini ga terjadi ama kita. hal seperti ini, semoga Allah jauhkan dari kita. tapi, how awful these phenomenons could possibly happened to us? seandainya kita sadar akan tanggung jawab-tanggung jawab kecil di sekitar kita memang kita perhatikan. 

terima kasih Allah, masih banyak orang yang bertanggung jawab di sekitar saya. semoga tanggung jawab mereka tidak pernah retak.

tamparan....

.....dari dr. gery

"kamu mana katanya mau ke klinik saya, wacana aja kalian!" #slap one
"bangun dulu kesehatan di tempat tinggal kamu, baru pikirin daerah lain. liat dokter2 yang menjamur di kota."
1. kita itu mahasiswa yang katanya mau belajar, tapi terlalu buta untuk melihat kesempatan belajar. banyak dari kita diam dan menunggu. banyak dari kita lupa kalau mengajarkan juga proses belajar.
2. ketika jadi dokter itu adalah untuk kita nyari penghasilan, disitulah kelemah kita. ketika kita jadi dokter basically untuk menolong orang, itulah kekuatan kita. rasa takut itu muncul ketika kita berbuat salah. ketika dokter takut ketika digugat pasien ada beberapa kemungkinan, 1. dia tidak pintar, karena dia ga yakin akan apa yang dia lakukan. 2. dia tau dia melakukan kesalahan karena either tidak menuruti SOP atau menambah2i SOP, intinya, for benefits.
3. tanda dokter sudah kehilangan basic pekerjaan mulia, dan berganti jadi bisnis.
a. dokter menjamur di kota, defisit di desa
b. lebih banyak orang mau jadi dokter spesialis, padahal itu artinya dia mengerucutkan jumlah manusia yang bisa dia tolong. hmm, sedikit defiable sih.
c. menjadikan praktik dokter sbg sumber penghasilan.

rasanya masih banyak contoh dokter2 pebisnis.

yah, kalo diliat pas kuliah sih, kayanya mereka2 yang nyontek. ga terlalu idealis sih gw, mungkin memang mereka perlu untuk survive. cuma jatohnya, mereka kaya orang yang nyuri hape gw di angkot, mungkin emg they have children to look after, but it is still wrong.

astagfirullah. masih banyak contoh yang ngedescribe how nasty we are, despite of how righteous our profession is. mungkin gw pernah did wrong things. but, thank God, He forgives and we change (and can change).

May all doctors do the right things.

#ngomong apa sih gw? gw cuma merasa bersalah karena lupa ama ilmu yang mati2an gw pelajari. percuma sooca kalang kabut, tapi setelahnya menguap. i need to do something.

#2

David grabbed the fork he had put aside and inspected it for a while. "So should i conclude that you didn't marry the man you loved?"

"Oh, please, that's not what i meant."

"What is it you meant, then?" David said, still talking to the fork. "I thought you were in love with me when we got married."

"I was in love with you," Ella said, but couldn't help adding, "back then."

"So,when did you stop loving me?" David asked, deadpan.

No matter who we are or where we live, deep inside we all feel incomplete. its like we have lost something and need to get it back. Just what that something is, most of us never find out. And those who do, even fewer manage to go out and look for it.

-ES

i guess me lucky keeping my world small enough.

as i am

i lived to meet people expectations, thats when i started to become people's slave.

i thought i might wanna take a leisure moment, but it ended up with guilt.

today i realized, people have all the freedom to like or dislike. i just cannot be shaped as they wished.

people content of their own considerations. i do not interfere others decisions, i give submission.

its so sad, i have never expect others will do the same.

- a good thing to be a grown up man is the ability to decide. a bad thing to be a grown up man is the awareness that somebody have their eyes only on your actions, not on your minds.

#1

for despite what some people say, love is not only a sweet feeling bound to come and quickly go away. and when we are in love we need to wait for forty days to make sure of our feelings.


How we see God is a direct reflection of how we see ourselves. If God brings to mind mostly fear and blame, it means there is too much fear and blame welled inside us. If we see God as full of love and compassion, so are we

-ES.

social networking dan hepatocyte-ku..

entah, aku ngerasa social networking, kaya twitter, kadang2 bbm ngebuat orang angkuh dan sering kali salah memaknai..

ga jaranglah temenku galau, atau ngerasa marah, atau ngerasa ditowel harga diri, atau ketenangan, atau apapun itu hanya karena ngeliat tweet temennya/seseorangnya/siapapunnya. apa ya? semakin sedikit kata yang bisa dipampang di twitter, atau di bbm, atau blog, any other social networking, semakin luas interpretasinya. syukur2 kalo orang yg ngebacanya ga penasaran, kalo orangnya suka penasaran, suka mau tauuuu pisan, wah gosip bisa muncul, prasangka, dll dsb.

semakin kesini, people have broader scope of mutual friends, tapi smaller bravery to speak in person. -_-"

cerita dulu pas kkn. temenku si A sangat menentang yang namanya KKN, ga guna katanya, "mending gw kerja!" he has son and wife to afford, daripada sekedar Kongkow-Kongkow Ngopi. yaa, mungkin kekesalannya itu yang kehilangan sekian lembar uang karena hidupnya tertahan di pedesaan disalurkan via social networking, yang tentunya bukan alasan mengapa dia ngerasa KKN buang2 waktu, tapi umpatannya yang notabene, puncak kekesalannya. yaaa, instead of bilang, "karena udah punya keluarga, gw merasa KKN ga guna, karena menghambat gw bikin duit." tapi karena keterbatasan karakter, yang keluar cuma "unp*d samp*ah, gobl... yang myemyemye" ya gitulah, kata2 yang kasar.

ya ga salah juga sih, di satu sisi emang, toh twitter/fb/bbm ini kan punya gw, kumaha aing weh,

tapi kalo ngeliat reaksi orang yang ngebacanya. beuh, lebay. dan herannya, percakapan itu hanya di dunia maya aja, pas hari2an, pas sarapan, ga ada sama sekali pembicaraan ttg itu.  sampai akhirnya memuncak, sampai akhirnya mesti dibikin forum hanya untuk ngomongin adu mulut di fb/twitter itu(yang ga pantes dibilang adu mulut sih, tapi adu pengecut2an untuk ngomong langsung. oops, terlalu jahat kata2 gw, yasudahlah, maaf pemirsah!) ..

dan gw bingung aja, saat itu, why was i the only person who talk to him ttg bagaimana seharusnya dia behave, sedangkan tmn2 yang lain cuma ngomong di belakang, dan didnt even start to make conversation with that person. ini bukan ttg gw bilang bahwa apa yg gw lakukan benar, dan yang orang lain lakukan salah. tapi gw heran, knp yg lainnya ga mau memulai berdiplomasi?

mencoba melihat dari sudut pandang lain, mungkin bbrp org memang bagus berkata2 lewat tulisan ketimbang lewat mulut. kali lidahnya suka kepeleset. ya, ini gw bgt sebenernya. jadinya mereka lbh milih ngomong di dunia maya. itu pemikiran positif dari gw, tapi sayang, mostly yang aku liat ya orang2 yang kadang takut melihat orang langsung ke matanya.

mmm, ga tau sih, ga salah punya account social networking kaya gitu, toh emg informatif. tergantung siapa pemakainya juga. tapi entah kenapa aku lebih sering melihat mudharat daripada manfaat.

dan aku juga heran, dengan diskusi2 konsep, teknis di di twitter, apalagi netmeet, ato chatmeet untuk rapat.. -____-" itu kaya komunikasi memang satu tema, pemikiran bisa macem2. TANDA KOMA ITU KRUSIAL, kawan. dan herannya byk orang yang suka ngomong ga pake tanda koma. dan intonasi bicara itu juga penting. jujur, gw suka salah mengartikan nada bicara, maksud, dll kalo bicara di bbm ato ym. mungkin ke orang2 yang udah sering berinteraksi bareng, im fine with that. to me, netmeet is pain. orang kaya bisa ngaso dulu sebelum pemikirannya disampaikan. bisa ngabisin waktu berjam2 without significant changes. mending ketemu. fokus orang bisa terlihat, siapa yang antusias, siapa yang engga.

yah, mungkin ada orang2 yang bagus dengan cara itu, no problem. mungkin gw hanya seorang dari bbrp orang yang lebihh suka melihat dan bicara langsung ke mata lawan bicara gw.

hmm, yah, sejauh ini, gw cukup punya fb yang berguna untuk say hello, update tugas kuliah, dll. cukup punya bbm yang mengurangi tagihan hp gw tiap bulannya (walopun untuk yg satu ini, aku juga ga gitu suka, reluctant untuk memiliki dan menggunakannya. tapi on the other hand, bbm penting buat mam memonitor anaknya, bahaha, so, i cant get rid of that.) twitter? mmm, emang sih ga punya twitter bikin gw basi, haha. tapi, bagaimanapun, gw hanya menjauhkan diri dari hal2 yg kira2 aku anggap kurang bagus untuk diriku sendiri.

ps. aku pernah dikatain kejam karena ngapus contact org dr list contact bbm aku, aku pernah dibilangin sombong krn newbee bb tapi ga ngeadd org, aku ga gitu suka the idea untuk ganti display name untuk pengganti doa selamat ulang tahun, aku ga suka baca status update org , i keep my friends list in fb, org yg gw ga kenal nama panjangnya kdg2 ga gw approve jd temen (pdhl gw pelupa pisan ama nama org -__-", my bad), aku paling heran ama orang yg cerita ke aku dia galau hanya karena timelinenya twitter, gw suka bingung kalo ada org yg ngeadd bbm tapi gw sendiri ga tau dia punya bb. hal paling aneh yg pernah aku rasain adalah ketika kang kyan ngeadd bbm aku, karina nurizky (yg waktu itu namanya sgt asing di pikiranku) dan lauditta humaira (yg tnyata anak fhui yg anak afs, yang aku ga tau gimana caranya dia dpt pin aku). knp aku heran? krn simply aku ga tau sopan santun di bbm gimana.

so, the question is, is this me being sok eksklusif shg menganggap aneh aksi dan reaksi tmn2 di social networking, apa sebenernya aku social netwoking phobia? yang jelas, teman2ku punya networknya sendiri nih, di hepatocytekuu :D

oia, minal aidin wal faidzin ya :) semoga amal ibadah kita diterima Allah. mohon maaf kalo aku, pastinya, suka salah kata, salah mimik, salah berbuat. may we be forgiven.
 

berusaha menyenangkan semua orang itu...susah.

kata papa, " ga usahlah kamu berusaha mendamaikan dunia."

berusaha nyenengin mama, papa, dimas, nonon, rani, astri, dicky, miko, tanri, rahmi, ricat, yafidung, shinta tresna, nadhila, adhika, seno, ulil, kang barry, mishbah, hadiid, annisa dinda (icha), atung, bocun, mama ida, cici ai, mbak atien, mas mur, dr. guswan, dandon, taufik itu sussaahhh.
*gemes, almost give up, tapi harus bisa.

keromantisan yang ikhlas.

august 15, 2011. 5.39 am

yang berakhir bukan berarti halangan untuk memulai. kata mario teguh semalam, dengan ikhlas: bernyanyilah seperti tidak ada orang yang mendengar, menarilah seperti tidak ada orang yang melihat, mencintailah seperti tidak akan ada yang terluka. itu yang dia sebut, hati berlogika ikhlas.

everything ends, but it doesnt mean we cannot enjoy something in between.

akan banyak 'something in between,' sebelum itu berakhir, nikmatilah sampai tetes terakhir :)


oleh aichiro suryo prabowo: kereta kabungah.

Saat ini saya tengah berada di Stasiun Depok Lama, menantikan KRL jurusan Tanah Abang yang katanya, akan datang setengah jam lagi. Bisa dibilang, situasinya tergolong lengang, tidak seramai biasanya di hari-hari kerja. Tidak ada penjaja gorengan lima ratusan, penjual koran seribuan, atau pembajak CD lima ribuan. Beginilah akhir pekan di Jabodetabek, sepi dari ambisi. Ambisi juga butuh istirahat.

Tak jauh di sebelah saya, duduk seorang bapak bersama putranya. Beliau tidak menjinjing tas. Pakaiannya juga terlihat santai, kaos oblong putih, tak menandakan kalau dirinya akan keluar “malam mingguan”. Putranya justru terkesan lebih siap tempur dengan mini-jersey tim nasional Indonesia, menunjuki apapun yang ia cermati, dan meneriaki apapun yang ia tunjuki.

Beberapa saat berlalu. Tanpa pemberitahuan awal, satu rangkaian gerbong KRL tiba di depan kami, mendesis, berhenti, lalu membukakan pintu-pintunya. KRL tujuan Jakarta Kota tersedia di jalur satu, bla, bla, bla! Petugas baru mengumumkannya lewat pengeras suara. Saya diam saja, sebab memang bukan ini kereta saya. Bapak di sebelah juga tidak bergerak. Beliau malah memangku putranya yang semakin agresif menunjuk-teriaki kereta tersebut. Sampai akhirnya suara peluit nyaring melengking, menandakan masinis akan segera melanjutkan perjalanannya. Begitu diyakinkan aman, pintu-pintu menutup, rangkaian gerbong beranjak, stasiun pun lengang kembali.

Hanya ada dua jurusan kereta yang bisa diambil dari jalur 1: Tanah Abang atau Jakarta Kota. Maka mudah saja sebetulnya menebak ke arah mana penumpang akan bepergian. Kalau bukan ke Jakarta Kota ya, berarti ke Tanah Abang, begitu juga sebaliknya. Pertimbangan itu yang lantas mendorong saya untuk bertanya sekaligus memulai obrolan kecil dengan sang bapak, Bapak mau ke Tanah Abang juga, ya?

Henteu, Jang, jawabnya dengan bahasa Sunda yang kental.

Saya kembali bertanya, Oh, saya kira sama dengan saya, Pak. Berarti ke Jakarta Kota, nggak naik yang barusan lewat?

Jawabnya lagi, Abdi mah moal kamamana, Jang, mung nganter pun anak, resepeun ningali kareta. Saya yang tidak fasih berbahasa Sunda hanya sanggup manggut-manggut memerhatikannya. Tapi kalau boleh menebak, artinya kurang lebih, Saya tidak kemana-mana, di sini hanya mengantarkan anak saya, dia suka sekali melihat kereta. Menurut saya itu romantis.

Tak lama, KRL tujuan Tanah Abang datang, dan mereka tetap duduk. Saya pun berpamitan di sela keduanya sedang kabungah menikmati lalu lalang kareta sore ini. Dari dalam gerbong, kemesraannya masih sempat terlihat selama beberapa detik. Pemandangan itu lalu hilang bersamaan dengan beranjaknya commuter line menuju stasiun berikutnya.

Walau hanya sebentar, obrolan kecil tadi cukup berkesan bagi saya. Walau hanya beberapa kalimat, ucapan bapak tadi juga berhasil membuat saya tersadar, kemudian berpikir lebih jauh di sepanjang perjalanan. Tentang rasa senang, tentang bagaimana seseorang memperoleh kesenangannya dari sesuatu.

Ada orang yang mungkin baru senang setelah dapat membeli, katakanlah, sebuah kereta. Raja minyak dari Rusia, mungkin? Ada orang yang seperti saya, senang saat mampu menikmati jasa dan membeli tiketnya dengan harga terjangkau. Namun ada juga orang yang ternyata senang cukup dengan memandanginya dari jauh, bapak dan anak di stasiun tadi, contohnya. Tentu tidak hanya kereta. Masih ada lagi sesuatu-sesuatu lain yang mungkin berwujud, bernyawa, berharga, atau malah tidak  ketiganya, yang saya percaya juga sama saja.

Tahta, ada yang senang dengan menjaga aman kursinya, ada yang lebih senang dengan menjaga baik amanahnya. Wanita, ada yang senang dengan meminangnya sepenuh hati, ada yang senang sekedar dengannya bersenang-senang tanpa hati. Harta, ada yang senang dengan mengumpulkannya sebanyak mungkin, ada juga yang senang justru dengan membagikannya sesering mungkin. Yang pasti satu, bahwa pada akhirnya yang dicari setiap orang dalam hidup tetaplah rasa senang. Bentuknya? Bisa jadi bermacam-macam, tidak selalu sama… dan tidak harus sama.




Terinspirasi oleh seorang bapak dan putranya, nu gaduh kabungah di tengah keterbatasan.

ini keromantisan yang ikhlas. 

perbaikan diri.

mungkin ini tulisan 1 tahun, 2 tahun lalu. surprised.


Feb 16. 6.51 pm
Earphone off, earphone on
Kenapa manusia punya emosi? Kenapa katanya, wanita didominasi perasaan? Padahal emosi dan perasaan bukan sesuatu yang seharusnya diperlihatkan. Mama pernah bilang,”Ratu Inggris itu mbak, kalo marah, kalo seneng, ga keliatan.” Kalau memang seperti itu seharusnya wanita bersikap, kenapa tercipta emosi, yang seharusnya ditahan, dan perasaan yang biasanya disembunyikan?
_____________________________________________________
Pagi itu, gw nelususin paving block menuju kampus. Rasanya, gw ngedenger suara burung. gw lupa suaranya. Ternyata suara klakson angkot. Ironically similar! Tapi gw yakin gw denger the bird/s chirp. Gw berhenti (disaat orang lain mulai berjalan mendahului gw). Apa bener itu suara burung? Hati gw bilang iya, telinga gw bilang engga. Iya itu suara burung, dari arah arboretum. Apa kebenaran sekarang ini sebegitu susahnya didengarkan?
Pagi ini, gw sumbat telinga gw dengan lagu2 berisik yang sebenernya liriknya tidak begitu bermanfaat. 1 hal yang gw rasakan. Kesendirian yang angkuh.
Beda dengan pagi itu, dimana gw masih bisa ngebales salam si tukang bubur. “kuliah neng?”..”iya pak, berangkat dulu pak, assalamualaikum!”..”waalaikumussalam”. didoakan.
Dimana gw masih bisa ngangkat tangan berusaha sopan tanpa berucap ke tukang pulsa, “ati2 neng”
Dimana tukang ketoprak gw bisa jawab pertanyaan kang ketoprak,”temennya yang lain pada kemana neng? Sendirian aja”..”pada belum siap pak”
Yang gw rasakan adalah kenyamanan yang ga bersekat.
_____________________________________________________
Gw ga tau mana yang lebih menguntungkan,menyampaikan kata2  jujur tapi menyakitkan, apa diam-supaya aman-tapi menghancurkan.
_____________________________________________________
Kata dokter ardini raksanagara, zaman sekarang dokter bukan hanya spesialis-spesialis aja. Udah ada dokter kesehatan kerja, dokter kesehatan masyarakat, dokter ekonomi kesehatan. Sayang, belum ada dokter kesehatan moral.
_____________________________________________________
Apa yang diharapkan dari dokter yang kesusahan mendengarkan kebenaran, tidak mengerti emosi dan perasaan, yang kadang tidak bisa membedakan kenyamanan dan keangkuhan? Yang diharapkan: perbaikan diri.