Mafia Kamar Operasi

 Jakarta, 1 Mei 2026


“Assalamualaykum Dokk, kok ga ikut PIT?” ketik saya di Whatsapp ditujukan pada guru favorit saya ketika saya mengikuti seminar tahunan yang biasanya diikuti oleh beliau juga. Waktu saya sekolah, beliau mengajar di RS yang saat ini saya mengabdi. Salah satu alasan mengapa saya mau melamar ke RS pemerintah ini. Beliau saat ini sudah pindah ke rumah sakit sebelah atas titah Menkes, semua kecewa namun semua tidak dapat berbuat apa-apa. Dalam hati sangat menyayangkan perpisahan dengan beliau, huh, padahal karenanyalah saya masuk ke hutan belantara ini. “Sibuk di RS baru. Saya ikut bicara pas workshop Birth Defect-nya. Apa kabar (sebut saja saya) Bunga?”, balas beliau. 



Bingung sebetulnya mau jawab apa karena politik di RS jelas tidak baik-baik saja. Apalagi role model di rumah sakit ini sudah tidak ada. Beliau bisa diajak blak-blakan bicara tentang bobroknya rumah sakit, tapi tidak mengesampingkan pelajaran untuk tetap menjaga perasaan dan mawas diri: sabar saja, kalau masih muda memang lebih mengikuti aturan yang biasa ada, aturan yang sudah tua. Walaupun gerah. Jangan keliatan 'warna'-nya. Maksud beliau, biasa-biasa aja, jangan terlalu berbeda.


Tapi kalau ditanya apa kabar, apalagi jawabannya kalau bukan: “Baik Dok, alhamdulillah. Lagi mencari inspirasi di seminar sini.”


Saya berangkat di pagi itu dengan tujuan mencari siapa yang mampu menginspirasi. Allah baru pertemukan saya pertama kali dengan Prof. Dr. dr. Erry Gumilar Dachlan, Sp.OG, Subsp. KFM. Di salah satu sesi kuliahnya beliau buka dengan, “di masa-masa sekarang ini, Sp.OG bangun di pagi hari dan berpikir, ‘siapa yang bisa saya seksio ya?’”


Miris. 

Tapi benar adanya. 


Sesekali mendengar percakapan dokter di kamar sebelah seperti, ”buat apa poli kalau tidak ada operasi?” atau "pokoknya operasi saya minggu ini ada 3, 2 besar dan 1 kecil." Supaya apa? Mungkin masalah uang, remun kita sebutnya. Mungkin masalah skill, jumlah operasi mungkin menggambarkan jenjang keahlian tangan. Namun keahlian tangan tidak selalu berbanding lurus dengan keahlian analisa. Mungkin masalah target rumah sakit.


Kedokteran ini sudah lama teriritasi dengan monetisasi. Judgement Dokter untuk melakukan operasi operasi dikangkangi oleh perut sendiri, pikir saya, si anak kemarin sore. 

Ternyata saya salah.

Saya, si newbie di hutan belantara ini ternyata seorang naif yang tidak tahu bahwa untuk mendapatkan 1 operasi, ada banyak mulut yang harus disuapi, ada perut yang harus diisi, dab ada tangan yg harus disalam tempeli. Perut si pegawai administrasi, perut di kakak perawat di meja tensi, perut anak si dokter yang lagi skripsi, perut si ibu yang mengatur jadwal operasi, dan akhirnya perut keluarga bapak-bapak perawat bedah yang mengasisteni operator bisa sampai 6-8 jam per sesi. 



Di tangan merekalah yang menentukan para dokter bedah ini apakah berjodoh dengan pasiennya atau ditikung sama dokter yang lain. Disinilah proses transaksi terjadi, supply demand. ‘Dokter butuh pasien? Saya bawakan dokter pasien.'


Praktik ini entah mulia entah hina, yang jelas sudah ada sejak purbakala dan dimana-mana ada. Bukan di hutan belantara saya saja, saya yakin di hutan belantara lainnya mungkin lebih gelap dan mungkin tidak bertahta. Mungkin bawah tangan, mungkin terang-terangan.


Sudah biasa satu rumah sakit memasang tarif dengan emblem: bidan merujuk pasien kesini, kita (rumah sakit) bagi jasa 1 juta perpasien. Ditambah lagi dengan percakapan transaksional, “di rumah sakit ini, kalo saya (bidan) merujuk dapat 1 juta, di rumah sakitmu 700 ribu saja ga nyampe.” Percakapan biasa, seperti jual beli batu di Pasar Rawa Bening. 



Sudah biasa di pegawai pendaftaran bekerja sebagai penyalur pasien. Masih dalam rambu definisi kerja. Namun, kadang bergantung sesajen. “kalau sakitnya ini baiknya ke dokter itu.” Satu waktu saya dapati 2 pasien saya langsung mengetuk pintu kamar poli, “Dokter udah ga terima pasien ya? Saya mau ke Dokter, tapi kata pendaftaran Dokter lagi operasi. Jadi saya diminta langsung tanya aja ke Dokter masih mau periksa saya ga?”



Belum lagi cerita demand Kemenkes terhadap para dokter pegawainya untuk menghasilkan revenue untuk rumah sakit vertikal. Jumlah pasien naik, angka revenue kita untuk RS naik maka kuadran 1. Jumlah pasien turun, angka revenue kita untuk RS turun maka kuadran 4. Fenomena aneh ini menjadikan dokter dengan kemampuannya beralih menjadi sales marketing. 



Allah menciptakan dunia ini untuk menjadi tempat ujian. Akan dikirim ujian berupa ketakutan, kelaparan, dan kehilangan dan kabar baik pada orang-orang yang bersabar. Every being who intercepts in our path is either to test you in syukur or sabar. Ada satu ayat yang artinya, “dan janganlah engkau (Muhammad) memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.” Al Mudassir ayat 6.



Mulai saja dari diri sendiri karena nanti akan menghadap Yang Maha Kuasa pun sendiri. Semoga Allah menjaga kita.

No comments:

Post a Comment